Selasa, 03 Januari 2012

ekologi


BAB I
PENDAHULUAN
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada disekitar kita baik manusia, binatang maupun tumbuhan atau segala sesuatu yang bernyawa dan bernafas adalah bagian dari lingkungan hidup. Dengan demikian, manusia merupakan bagian dari lingkungan hidup, oleh karena itu kita harus mampu dan berusaha untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup kita bukan justru merusaknya. Namun, seringkali manusia justru menjadi perusak lingkungan. Hutan gundul, langkanya binatang merupakan contoh dari rusaknya lingkungan hidup kita. Faktor terbesar dari fenomena tersebut adalah akibat dari kerakusan manusia yang menuruti hawa nafsu mereka.
Kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi di daratan, tetapi juga terjadi laut. Sudah menjadi tugas manusia untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan hidup. Manusia sebagai khalifah harus mampu memanfaatkan lingkungan dengan baik tanpa menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan tersebut.




BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Ekologi
Istilah ekologi pertama kali digunakan oleh Arnest Haeckel seorang ahli biologi Jerman  pada tahun 1866. Kata ekologi berasal dari bahasa yunani yaitu oekos berarti rumah atau habitat dan logos berarti ilmu. Ekologi ini merupakan ilmu yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungan atau tempat tinggalnya. Jadi ekologi berarti ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan sesamanya dan dengan lingkungannya. Permasalahan lingkungan hidup pada hakikatnya adalah permasalahan ekologi, misalnya kebutuhan tumbuh-tumbuhan akan sinar matahari, siklus makanan yang ada di bumi, proses kelahiran, kematian, pergantian generasi yang berlangsung terus menerus mengikuti hukum alam.[1]
B.       Faktor-Faktor Penyusun
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor biotik dan abiotik. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
1.      Faktor Biotik
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

a.      Individu (organisme)
Individu adalah suatu satuan struktur yang membangun suatu kehidupan dalam makhluk[2]. Individu merupakan organisme tunggal seperti: seekor tikus, seekor kucing, sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang manusia. Dalam mempertahankan hidup, satu jenis dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang kritis. Misalnya, seekor hewan harus mendapatkan makanan, mempertahankan diri terhadap musuh alaminya, serta memelihara anaknya. Untuk mengatasi masalah tersebut, organisme harus memiliki struktur khusus seperti: duri, sayap, kantung, atau tanduk. Hewan juga memperlihatkan tingkah laku tertentu, seperti membuat sarang atau melakukan migrasi yang jauh untuk mencari makanan. Struktur dan tingkah laku demikian disebut adaptasi. Ada bermacam-macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkunganya, yaitu:
1)      Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan hidupnya. Contoh adaptasi morfologi, antara lain sebagai berikut.
a)   Gigi-gigi khusus. Gigi hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung pemotong yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya.
b)   Moncong.Trenggiling besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika Tengah dan Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain yang merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil tak bergigi dengan lubang berbentuk celah untuk menghisap semut dari sarangnya. Hewan ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yang dapat dijulurkan jauh keluar mulut untuk menangkap serangga.
c)   Paruh. Elang memiliki paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan ujungnya tajam. Fungsi paruh untuk mencengkeram korbannya.
d)  Daun. Tumbuhan insektivora (tumbuhan pemakan serangga), misalnya kantong semar, memiliki daun yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga dapat menggelincirkan serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki tumbuhan insektivora, serangga tersebut akan dilumutkan, sehingga tumbuhan ini memperoleh unsur yang diperlukan.
e)   Akar. Akar tumbuhan gurun kuat dan panjang, berfungsi untuk menyerap air yang terdapat jauh di dalam tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk bernapas.
2)      Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk mempertahankan hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut.
a)   Kelenjar bau. Musang dapat mensekresikan bau busuk dengan cara menyemprotkan cairan melalui sisi lubang dubur. Sekret tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri dari musuhnya.
b)   Kantong tinta. Cumi-cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat melihat kedudukan cumi-cumi dan gurita.
c)   Mimikri pada kadal. Kulit kadal dapat berubah warna karena pigmen yang dikandungnya. Perubahan warna ini dipengaruhi oleh faktor dalam berupa hormon dan faktor luar berupa suhu serta keadaan sekitarnya.
3)       Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku. Contohnya sebagai berikut :
a)   Pura-pura tidur atau mati. Beberapa hewan berpura-pura tidur atau mati, misalnya tupai Virginia. Hewan ini sering berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.
b)   Migrasi. Ikan salem raja di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang sesuai untuk bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang berumur empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat Amerika Utara untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan mengeluarkan sperma di atas telur-telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa biasanya mati. Telur yang telah menetas untuk sementara tinggal di air tawar. Setelah menjadi lebih besar mereka bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut[3].

b.      Populasi
Populasi adalah sekumpulan individu sejenis yang hidup pada suatu daerah dan waktu tertentu.[4] Misalnya, populasi pohon kelapa dikelurahan Tegakan pada tahun 1989 berjumlah 2552 batang. Cara menentukan batasan populasi yang lebih baik didasarkan pada pengaruh atau individu yang lain dalam suatu populasi.
c.       Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Misalnya: populasi semut, populasi kutu daun, dan pohon tempat mereka hidup membentuk suatu masyarakat atau suatu komunitas[5].
Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.
d.      Ekosistem
Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.[6] Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Ekosistem sering disebut ekologi murni karena cakupan ekologi adalah lingkungan yang tatanannya merupakan ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora,karnivora,dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme).
e.       Biosfer
Biosfer merupakan tingkat organisasi biologi terbesar yang mencakup semua kehidupan di bumi dan adanya interaksi antara lingkungan fisik secara keseluruhan.

2.      Faktor Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.
a.      Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.


b.      Sinar matahari
Matahari merupakan sumber energi yang tak habis-habisnya. Sebenarnya manusia hidup di dunia ini sepenuhnya berkat energi matahari karena apa yang kita makan itu sebenarnya energi matahari yang tersimpan dalam tumbuhan maupun hewan[7]. Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis. Dalam Al-Qur’an terdapat dalil tentang matahari, yang artinya:
“dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (Qs. Ibrahim:33)
c.       Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji, bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.
d.      Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.

e.       Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.
f.       Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.
g.      Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.
C.      Etika Lingkungan
Etika lingkungan dapat diartikan sebagai dasar moralitas yang memberikan pedoman bagi individu atau masyarakat dalam berperilaku atau memilih tindakan yang baik dalam menghadapi dan menyikapi segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan sebagai kesatuan pendukung kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan umat manusia serta makhluk hidup lainnya.
Etika Lingkungan disebut juga Etika Ekologi. Etika Ekologi selanjutnya dibedakan menjadi dua  yaitu etika ekologi dalam dan etika ekologi dangkal[8].
Yang dimaksud Etika ekologi dalam adalah pendekatan terhadap lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur mempunyai arti dan makna yang sama.
Sedangkan Etika ekologi dangkal adalah pendekatan terhadap lingkungan yang menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk kepentingan manusia, yang bersifat antroposentris. Etika ekologi dangkal ini biasanya diterapkan pada filsafat rasionalisme dan humanisme serta ilmu pengetahuan mekanistik yang kemudian diikuti dan dianut oleh banyak ahli lingkungan. Kebanyakan para ahli lingkungan ini memiliki pandangan bahwa alam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
            Selain itu etika lingkungan juga dibedakan lagi sebagai etika pelestarian dan etika pemeliharaan.
1.      Etika pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia
2.      Etika pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua mahluk.

D.      Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaurulangan, atau pembuangan dari material sampah[9]. Yang dimaksud sampah disini biasanya adalah sampah yang dihasilkan oleh kegiatan manusia, dan pengelolaan tersebut dilakukan untuk menjaga kesehatan atau keindahan lingkungan dari dampak sampah tersebut. Pengelolaan sampah di setiap daerah berbeda-beda. Dengan pengelolaan sampah yang lebih baik, sampah yang dihasilkan tersebut dapat dikelola menjadi sampah yang lebih ramah lingkungan dan mungkin dapat dimanfaatkan lagi untuk kegunaan yang lain. Ada beberapa cara dalam pengelolaan sampah yang ideal, antara lain:
1)      Penimbunan darat
Metode menimbun sampah merupakan metode yang paling populer. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yang tidak terpakai. Penimbunan ini harus dirancang dan dikelola dengan baik. Jika penimbunan tidak dikelola dengan baik justru akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan.
2)      Metode daur-ulang
Merupakan suatu proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali. Contoh kegiatan daur ulang antara lain:
a)    Pemanfaatan kembali kertas bekas yang dapat digunakan terutama untuk keperluan eksternal
b)    Plastik bekas diolah kembali untuk dijadikan sebagai bijih plastik untuk dijadikan berbagai peralatan rumah tangga seperti ember dll
c)    Peralatan elektronik bekas dipisahkan setiap komponen pembangunnya (logam, plastik/kabel, baterai dll) dan dilakukan pemilahan untuk setiap komponen yang dapat digunakan kembali
d)    Gelas/botol kaca dipisahkan berdasarkan warna gelas (putih, hijau dan gelap) dan dihancurkan

3)      Pemilahan
Sampah dapat dipilah-pilah antara sampah organik dan sampah anorganik. Keduanya dapat dimanfaatkan kembali. Missal, sampah organik dapat dibuat menjadi pupuk, dan sebagainya.   
E.       Gejala-Gejala Alam
a)   Global Warming: suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Global warming ini penyebab terbesarnya justru disebabkan oleh manusia itu sendiri. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperlambat dampak pemanasan global, antara lain:
1.   Membatasi penggunaan kertas. Bayangkan bahwa setiap kita menggunakan satu lembar kertas kita telah menebang satu batang pohon. Kita harus menggunakan kertas se efektif mungkin.
2.   Ganti bola lampu. Ganti lampu pijar dengan lampu neon, karena lampu neon membutuhkan energy yang lebih sedikit dibandingkan lampu pijar. Setiap daya listrik yang kita pakai berarti kita telah turut menghabiskan sumber daya energi listrik.
3.   Tanamlah rumpun bambu. Pohon bambu mampu menyerap karbondioksida empat kali lebih banyak dibandingkan pohon-pohon lain.
4.    Kurangi memakai kantong plastik. Plastik ini memang unsur yang sulit terurai, butuh 1000 tahun untuk mengurainya di dalam tanah.
b)   Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi.
c)   Tsunami adalah gelombang air yang sangat besar dan dahsyat yang dibangkitkan oleh macam-macam gangguan di dasar samudera. Gangguan ini dapat berupa gempa bumi, pergeseran lempeng atau gunung meletus.



BAB III
PENUTUP
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungan atau tempat tinggalnya. Lingkungan tersusun atas biotik (individu, populasi, komunitas, ekosistem) dan abiotik (suhu, air, sinar matahari, tanah, dsb).
            Etika lingkungan adalah dasar moralitas yang memberikan pedoman bagi individu atau masyarakat dalam berperilaku atau memilih tindakan yang baik dalam menghadapi dan menyikapi segala sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan. Sudah menjadi kewajiban manusia sebagai khalifah untuk menjaga dan memanfaatkan lingkungan hidup dengan baik.
Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaurulangan, atau pembuangan dari material sampah. Sampah harus dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan.



Daftar Pustaka

Ali, Abdullah dan eny rahma. 2006. ilmu alamiah dasar. jakarta: PT bumi aksara

Jasin, Maskoeri. 2000. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Nizamuddin, dkk.1991. ilmu alamiah dasar. jakarta: ghalia indonesia

Rahim, Supli Effendi. 2008. Makalah Etika Lingkungan dan Perspektif Filsafat


http:// id.wikipedia.org/wiki/ pengelolaan_sampah, 17/10/2011





[1] Nizamuddin, dkk, ilmu alamiah dasar, (jakarta: ghalia indonesia, 1991), hal. 147
[2] Maskoeri Jasin, Ilmu Alamiah Dasar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000), hal.147
[4] Nizamuddin, hal 149
[5] Maskoeri, hal 152
[6] Nizadmuddin, hal. 149
[7] Abdullah ali dan eny rahma, ilmu alamiah dasar, (jakarta: PT bumi aksara, 2006), hal. 162
[8] Supli Effendi Rahim, Etika Lingkungan dan Perspektif Filsafat, 2008
[9] http:// id.wikipedia.org/wiki/ pengelolaan_sampah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar