BAB I
PENDAHULUAN
Resiliensi atau daya lentur merupakan salah satu istilah dalam bidang psikologi. Paradigmanya didasarkan pada pandangan yang muncul dari lapangan psikologi ataupun sosiologi mengenai bagaimana seseorang baik anak, remaja, dan orang dewasa sembuh dari keterpurukan, trauma, ataupun stress akibat dari masalah yang sedang dialami. Ada individu yang mampu bertahan dan bangkit dari situasi yang negative. Namun, tidak sedikit pula individu yang gagal keluar dari situasi negative tersebut.
Dikaitkan dengan remaja, dimana resiliensi ini merupakan kemampuan yang dimiliki oleh remaja itu sendiri yang tidak mengalah ketika menghadapi tekanan dan masalah. Mereka mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang negative, misalnya dari penggunaan obat-obatan terlarang, kenakalan remaja, dan perbuatan negative lainnya. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor dari resiliensi itu sendiri yang dapat bersumber dari diri seseorang, kekuatan personal, ataupun dari kekuatan sosial individu.
BAB II
PEMBAHASAN
Didalam islam terdapat banyak dalil-dalil yang melarang manusia untuk berputus asa, seperti dalam Qs. Yusuf ayat 87, yang artinya:
“jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".
Begitupula dalam Qur’an surat Az-Zumar ayat 53, yang artinya:
“janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”
Dengan demikian Islam menghendaki umatnya untuk selalu berusaha dan bangkit dari keterpurukan yang sedang dihadapi. Daya bangkit atau daya lenting ini disebut juga dengan resiliensi.
A. Pengertian Resiliensi
Manusia hidup di dunia ini memiliki tipe yang berbeda-beda. Ada individu yang mudah bangkit dan mampu bertahan terhadap situasi negative yang dialaminya. Namun ada pula individu yang tidak mampu bertahan didalam kondisi negative tersebut. Kemampuan individu untuk melanjutkan hidup setelah ditimpa kemalangan, tetapi hal tersebut tetap menggambarkan adanya kemampuan untuk bertahan individu dikenal dengan istilah resiliensi.
Resiliensi adalah suatu kemampuan yang dimiliki individu atau kelompok masyarakat untuk dapat menghadapi, mencegah, meminimalkan dan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari keadaan yang tidak menyenangkan. Menurut Block dalam klohnen (1996), resiliensi dirumuskan dengan nama ego-resiliensi yaitu suatu kemampuan yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan dari dalam maupun tekanan dari luar. Sedangkan menurut Grotberg, menyatakan resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari kesengsaraan dalam hidup. Karena setiap manusia yang hidup pasti memiliki masalah atau kesulitan didalam hidupnya.
Bidang spiritual mempunyai pengaruh terhadap resiliensi. Dimana semakin tinggi spiritualitas seseorang maka akan semakin tinggi pula resiliensinya.
B. Faktor-Faktor Resiliensi
Didalam resiliensi ini, ada beberapa faktor yang dapat menunjukkan seseorang itu berresiliensi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi individu menurut Grotberg, antara lain:
a. I Am
Faktor I am ini merupakan kekuatan yang berasal dari diri individu itu sendiri. Seperti tingkah laku, perasaan, dan kepercayaan yang terdapat didalam diri seseorang. Faktor I am ini dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1) Bangga pada diri sendiri
Individu memiliki rasa bangga terhadap dirinya sendiri serta mengetahui dan menyadari bahwa dirinya adalah seseorang yang penting. Selain itu, seseorang juga tidak akan membiarkan orang lain menghina ataupun meremehkannya. Oleh karena itu, individu harus mampu bertahan dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Salah satu yang dapat membantu mereka untuk bertahan dalam menghadapi masalah adalah kepercayaan diri yang tertanaman dalam diri masing-masing individu.
2) Perasaan dicintai dan sikap yang menarik
Seseorang dapat mengatur sikap ketika menghadapi respon-respon yang berbeda-beda ketika berbicara dengan orang lain. Kemudian individu akan mampu bersikap baik terhadap orang-orang yang menyukai dan mencintainya. Individu mampu merasakan mana yang benar dan mana yang salah serta ingin ikut di dalamnya.
3) Mencintai, empati, altruistic
Ketika seseorang mencintai orang lain, maka individu tersebut akan peduli terhadap segala sesuatu yang terjadi pada orang dicintainya. Adanya ketidaknyamanan dan penderitaan jika orang yang dicintai terkena masalah, kemudian adanya keinginan untuk menghentikan penderitaan tersebut.
4) Mandiri dan bertanggung jawab
Tanggung jawab berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tiap-tiap manusia sebagai makhluk Allah bertanggung jawab atas perbuatannya sesuai dengan Qs. Al-Mudatsir ayat 38. Manusia mempunyai kebebasan untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Individu juga harus mampu menerima segala konsekuensi dari tindakan tersebut. Seseorang mampu mengerti dan memahami batasan-batasan terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan. b. I Have
I have merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi resiliensi yang berasal dari luar. Adapun sumber-sumbernya, adalah:
1) Struktur dan aturan rumah
Didalam keluarga pasti memiliki aturan-aturan yang harus ditaati oleh setiap anggota keluarga. Dimana akan ada hukuman dan peringatan jika aturan tersebut tidak dilaksanakannya. Sebaliknya, jika peraturan itu dilaksanakan akan diberikan pujian atau bahkan akan diberikan reward.
2) Role Models
Role models yaitu orang-orang yang dapat menunjukkan apa yang individu harus lakukan seperti informasi terhadap sesuatu dan memberi semangat agar individu mengikutinya. 3) Mempunyai hubungan
Selain dukungan dari orang-orang terdekat seperti suami, istri, orang tua, dan anak, kadangkala seorang individu juga membutuhkan dukungan dan cinta dari orang lain yang dianggap mampu memberikan kasih sayang yang mungkin tidak dapat diperoleh dari orang-orang terdekat mereka.
c. I Can
I Can merupakan salah Satu faktor resiliensi yang berkaitan dengan kompetensi sosial dan interpersonal seseorang. Bagian-bagian faktor I Can, adalah:
1) Mengatur berbagai perasaan dan rangsangan
Dimana individu mampu mengenali rangsangan, dan segala jenis emosi. Kemudian menunjukkan dalam bentuk kata-kata ataupun tingkah laku dan perbuatan. Individu juga mampu mengatur rangsangan untuk berbuat kekerasan terhadap orang lain seperti memukul, merusak barang, dan perbuatan lainnya.
2) Mencari hubungan yang dapat dipercaya
Individu mampu mendapatkan seseorang yang dapat dipercaya untuk mampu membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Dapat diajak berdiskusi, ataupun dimintai pertolongan. Kepercayaan kepada orang lain itu sudah tentu percaya terhadap kata hatinya, perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap kebenarannya. 3) Keterampilan berkomunikasi
Kemampun individu untuk mampu menunjukkan pikiran dan perasaan kepada orang lain. Serta kemampuan untuk mendengar dan memahami perasaan yang dirasakan oleh orang lain.
4) Mengukur temperamen diri sendiri dan orang lain
Kemampuan untuk dapat memahami temperamen dirinya sendiri dan temperamen orang lain baik ketika diam, mengambil resiko ataupun ketika bertingkah laku. Dengan adanya kemampuan untuk memahami temperamen seseorang, maka akan membantuindividu dalam berkomunikasi.
5) Kemampuan memecahkan masalah
Kemampuan individu dalam menilai suatu masalah, kemudian mencari hal-hal yang dibutuhkan dalam usaha pemecahan masalah tersebut. Individu dapat membicarakan masalah-masalah yang sedang dihadapinya dengan orang lain. Kemudian menemukan pemecahan masalah yang sesuai. Individu akan tetap bertahan pada masalah itu sampai masalah tersebut dapat terpecahkan.